Peneliti BRIN Paparkan Pengaruh Faktor dari Virus dan Inang terhadap Sekresi Hepatitis B Virus Surface Antigen

Pinterest LinkedIn Tumblr +
image_pdfimage_print

Cibinong – Humas BRIN.  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui Pusat Riset Rekayasa Genetika (PRRG), Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, menyelenggarakan Friday Scientific Sharing Seminar (F3S) yang dimoderatori oleh Dr. Rikno Harmoko, M. Sc., pada Jumat (09/09/2022).

Koordinator Perencanaan dan Program Pusat Rekayasa Genetika (PRRG) BRIN, Dr. Andri Fadillah Martin mewakili kepala PRRG BRIN, saat membuka acara berharap semoga dengan seminar ini, semua peserta dapat mengambil manfaat atas ilmu yang disampaikan oleh para narasumber.

Pada kesempatan ini peneliti PRRG, Rifqiyah Nur Umami, Apt., M.S, mempresentasikan hasil penelitiannya yang dilakukan di The Westmead Institute for Medical Research, Australia ketika menempuh program S3, tentang pengaruh dari faktor-faktor yang berasal dari virus dan inang yang dapat memberikan efek terhadap sekresi Hepatitis B Virus Surface Antigen (HBsAg).

“Kasus infeksi hepatitis B di dunia masih tinggi, menurut WHO tahun 2019 secara global masih ada sekitar 296 juta orang yang memiliki surface antigen (HBsAg) positif, dan jika terdeteksi secara terus menerus selama 6 bulan maka mengindikasikan sudah masuk ke fase infeksi kronis hepatitis B. Kemudian diperkirakan per tahunnya terdapat penambahan kasus baru sekitar 1,5 juta kasus infeksi,” jelas Rifqiyah.

“Sedangkan di Indonesia sendiri, menurut penelitian Riskesdas tahun 2013, prevelensi dari HBsAg positif ini adalah sekitar 7,1% dan itu sama dengan sekitar 20 juta penderita di Indonesia,” tambahnya.

Dirinya menyampaikan bahwa infeksi hepatitis B ada 2 macam yaitu hepatitis akut dan kronis. Infeksi hepatitis B akut biasanya terjadi ketika sudah dewasa dan kemungkinan bisa pulih, sedangkan yang kronis berlangsung sangat lama dan biasanya terpapar pada waktu masih kecil, dan mungkin tidak terdeteksi, serta tidak ada pengobatan, sehingga infeksinya berkembang terus. Sekitar 10% dari kasus infeksi kronis nantinya bisa berkembang menjadi sirosis atau lebih parah lagi bisa menjadi karsinoma atau kanker hati.

“Karena pentingnya masalah infeksi hepatitis B ini, tiap tahunnya ada peringatan “World Hepatitis Day” setiap tanggal 28 Juli, tapi tidak khusus untuk Hepatitis B saja namun juga untuk hepatitis, A, C, D dan E.  Pada tahun 2022 ini, slogannya yaitu “Bringing hepatitis care close to you” yaitu bagaimana pasien-pasien hepatitis bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai,” tuturnya.

Menurut Rifqiyah, walaupun sudah tersedia vaksin dan obat-obatan, namun infeksi hepatitis B kronis ini belum bisa disembuhkan secara total, dan membutuhkan pengobatan yang cukup lama dan secara ekonomis cukup membebani pasien. Banyak kejadian ketika pengobatan sudah dihentikan akan tetapi setelah beberapa lama akan kambuh lagi dan itu menandakan bahwa di dalam sel itu sendiri masih terjadi infeksi. Oleh karena itu diperlukan strategi baru untuk pengobatan hepatitis B kronis dengan menarget HBsAg.

Rifqiyah menyampaikan bahwa pada tahap awal risetnya fokus pada pengaruh mutasi Basal Core Promoter (BCP) terhadap sekresi HBsAg secara in vitro.

“Sistem yang kita gunakan sudah sesuai dengan yang diharapkan, ditandai dengan phenotype mutant yang berkorelasi dengan peningkatan produksi core protein dan bisa jadi karena peningkatan pgRNA. Juga terbukti mutasi BCP dapat menekan pre-core promoter dan akhirnya menurunkan produksi HBeAg. Namun sayangnya data menunjukkan bahwa mutasi BCP tidak secara langsung mempengaruhi produksi HBsAg,” jelasnya.

Rifqiyah mengungkapkan bahwa karena mutasi BCP tidak menunjukkan pengaruh langsung terhadap sekresi HBsAg, risetnya berlanjut dengan melihat apakah faktor dari inang yaitu gen TM6SF2 mampu mempengaruhi sekresi HBsAg. “Hasilnya yaitu sekresi HBsAg berkurang secara signifikan dalam sel knockdown siRNA TM6SF2 dibandingkan dengan sel kontrol. Dan efek ini spesifik terhadap HBsAg tanpa mempengaruhi replikasi virus,” jelasnya. Apabila riset ini hendak dikembangkan menjadi strategi baru dalam pengobatan hepatitis B kronis maka diperlukan studi in vivo lebih lanjut.

Rifqiyah juga menjelaskan cara mendapatkan kandidat-kandidat host factors yang bisa berpengaruh terhadap sekresi HBsAg dengan membandingkan antara sel HepAD38 yang secara stabil dapat memproduksi DNA Hepatitis B Virus (HBV) dan HBsAg dengan sel parentalnya yaitu HepG2 yang sama sekali tidak mengekspresikan HBsAg. “Analisis proteomik dari fraksi ER HepAD38 dan HepG2 sebagai sel induk menyediakan alat skrining untuk mengidentifikasi faktor inang yang berpotensi berperan dalam sekresi HBsAg. Gen yang teridentifikasi memiliki perubahan signifikan berdasarkan analisis statistik dapat dikonfirmasi ekspresinya dengan metode qPCR,” jelasnya.

Diakhir paparannya Rifqiyah menyampaikan rencana risetnya ke depan yang berkaitan dengan HBV yaitu pengembangan therapeutic vaccine, pengembangan deteksi dan therapi menggunakan aptamer, dan melanjutkan skrining host factor termasuk pengembangan model uji in vitro dan in vivo.

F3S ini juga menghadirkan narasumber lainnya, yaitu Dr. Muhammad Idris, M.Si dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. Idris menjelaskan paparan bertajuk Ultraviolet-B and plant growth: Photomorphogenesis response in rice (Oryza sativa L.) and its relation to the issue of global climate change”. (wt)

 

 

Share.

About Author

Leave A Reply